Komunitas Nahdlatul Ulama di Belanda

Al-Muhafazhah ‘Ala Al-Qadim Al-Salih Wa Al-Akhdh Bi Al-Jadid Al-Aslah (Menjaga Tradisi, Menggapai Masa Depan)

  • December 2016
    M T W T F S S
    « Jan    
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031  
  • Arsip

“Repositioning” MUI

Posted by nahdliyinbelanda on January 21, 2008

Oleh: Syaifudin Zuhri

 

Dari dulu, para peneliti -mulai Geertz, Mark R. Woodward hingga Hefner- sangat membangga-banggakan Indonesia. Pasalnya, corak keberagamaan Indonesia sangatlah cantik dan mampu beradaptasi serta berakulturasi dengan berbagai ragam budaya dan norma yang ada. Hingga tidak salah, para ilmuwan beranggapan bahwa Islam di Indonesia disiarkan dan dikembangkan dengan cara-cara damai. Bukan hanya itu, progesifitas umat Islam Indonesia, seperti pernah dilontarkan Hooker dalam buku-nya “Indonesian Islam”, digambarkan sebagai Islam lokal yang cerdas dan mampu mengapresiasi tuntutan ajaran Islam yang universal dan kontek yang lokal. Inilah salah satu kelebihan Islam di Indonesia dibanding negara Islam atau negara berpenduduk muslim lainnya. Read the rest of this entry »

Posted in Artikel | Leave a Comment »

Kesadaran Multikultural Pesantren

Posted by nahdliyinbelanda on November 13, 2007

Oleh: Sunarwoto

Benarkah pesantren tidak atau kurang memiliki kesadaran multikultural? Pertanyaan ini dikemukakan terkait dengan hasil sebuah penelitian yang dilakukan oleh ICIP (International Center for Islam and Pluralism), BKSPPI (Badan Kerjasama Pondok Pesantren se-Indonesia), dan AusAID beberapa tahun lalu. Penelitian tersebut membeberkan hasil penelitiannya dalam seminar dan workshop “Persepsi Komunitas Pesantren di Jawa Barat terhadap Isu-isu Keagamaan dan Multikulturalisme” di Depok, Jawa Barat, Selasa (16/1, 2006). Hasilnya, di antaranya, menyatakan bahwa kalangan pesantren inkonsisten dalam menyikapi multikulturalisme. Di satu sisi, mereka bersikap moderat dan toleran dalam masalah sosial, politik dan ekonomi. Namun, di sisi lain, mereka bersikap intoleran dalam masalah akidah. Seperti diungkapkan oleh salah seorang perwakilan pesantren Persis, Tarogong, toleransi dalam masalah agama tidak dibenarkan. (Republika, “Dialog Jumat”, 20/1). Di sini, kita bisa mencatat bahwa sensitivitas persoalan multikulturalisme bagi dunia pesantren terletak pada persoalan teologis, terutama menyangkut pluralisme, liberalisme dan sekularisme dalam soal keagamaan. Meski demikian, kesadaran multikultural sesungguhnya tidak sepenuhnya absen dari dunia pesantren, baik secara sosio-kultural ataupun bahkan dalam soal teologis sekalipun. Tulisan ini tidak hendak menjawab pertanyaan benar-tidaknya pesantren memiliki kesadaran multikultural di atas. Alih-alih, penulis mengajak untuk memahami lebih jauh potensi kesadaran multikultural yang terkandung dalam dunia pesantren. Read the rest of this entry »

Posted in Artikel | 2 Comments »

Keberanian Teologis dalam Dialog Agama

Posted by nahdliyinbelanda on October 7, 2007

Oleh: Sunarwoto

Mungkinkah dialog agama berlandaskan pada teologi? Pertanyaan ini dikemukakan bukan tanpa alasan. Cendekiawan dan teolog Victor Tanja almarhum, misalnya, pernah mengatakan bahwa mustahil ada dialog teologis. Karena, menurut dia, “untuk mengerti teologi seseorang, orang harus hidup di dalam suatu komunitas teologis tersebut.” (Majalah Ummat, Januari 1996). Dengan lain kata, jika dialog dilakukan, maka sebagai konsekuensinya yang terjadi bukan saja orang memahami keimanan dan keyakinan orang lain yang berbeda tetapi juga sekaligus memasuki dan bahkan mengikutinya. Lebih ekstrem lagi barangkali adalah bahwa dialog teologis berujung pada konversi iman. Read the rest of this entry »

Posted in Artikel | Leave a Comment »

Rekonstruksi Fiqih Inklusif-Pluralis

Posted by nahdliyinbelanda on October 2, 2007

Oleh: Muhammad Latif Fauzi

Judul Buku: Fiqih Lintas Agama: Membangun Masyarakat Inklusif-Pluralis
Penulis       : Nurcholish Madjid, dkk.
Editor         : Mun’im A. Sirry.
Penerbit     : Paramadina, Jakarta
Tahun         : 2004
Tebal           : 274 + x hlm disertai dengan indeks dan biodata penulis

Sejak awal, hubungan antaragama tergolong masalah sensitif yang tidak mudah diselesaikan kecuali dengan adanya kesediaan pemeluknya untuk saling mengerti dan memahami.  Di negeri-negeri muslim yang baru menjalankan eksperimentasi demokrasi, umumnya kelompok-kelompok nonmuslim seringkali dipandang sebelah mata dan belum mendapat perlakuan yang sewajarnya. Mereka masih dipandang sebagai “warga kelas dua”, meskipun secara simbolik eksistensi mereka diakui. Memang, masih ada semacam ganjalan di kalangan umat muslim untuk menerima kehadiran mereka sepenuh hati.  Ini biasanya menyangkut keyakinan teologis yang seolah-olah taken for granted, yaitu bahwa orang-orang nonmuslim adalah orang-orang musyrik yang menyimpang dari keimanan monoteis yang digariskan Allah dan Nabi-Nya. Read the rest of this entry »

Posted in Pustaka | 1 Comment »

Islam Jawa

Posted by nahdliyinbelanda on October 1, 2007

Oleh: Syaifudin Zuhri

Islam memang tidak bisa dilepaskan dengan lingkungan di mana agama ini diturunkan, yakni di tanah Arab. Artefak budaya Islam yang nyaris keseluruhannya mengandung unsur budaya dan tradisi Arab dan seakan-akan menjadi sentrum budaya dominan ketika berbicara tentang Islam. Pandangan yang berakar dari perpektif patron-client ini pada gilirannya memunculkan problem otensitas yang tidak kunjung selesai. Islam dan Arab menjadi dua sisi mata uang yang tidak bisa dilepaskan, sehingga yang tidak berakar dari Arab atau yang telah berasimilasi dengan unsur budaya lain kerap di sebut sebagai tidak “Islami”. Di sinilah problem Islam yang otentik kemudian muncul menjadi persoalan besar masyarakat Islam di awal abad ke-20. Problem dua kutub, Islam global dan Islam lokal menjadi diskursus yang melelahkan dan tidak kunjung terpecahkan. Tulisan ini merupakan telaah singkat tentang salah satu ikon indentitas keislaman masyarakat Jawa. Realitas ke-“Jawa”-an merupakan salah satu element yang sangat berpengaruh dalam memahami Islam dalam konteks masyarakat Jawa. Pada akhirnya, Islam yang berkembang dalam masyarakat Jawa terlibat dalam perdebatan “otensitas Islam”, dan merupakan bukti pemahaman Islam yang partikular dalam sistem nilai yang universal. Read the rest of this entry »

Posted in Artikel | 1 Comment »