Komunitas Nahdlatul Ulama di Belanda

Al-Muhafazhah ‘Ala Al-Qadim Al-Salih Wa Al-Akhdh Bi Al-Jadid Al-Aslah (Menjaga Tradisi, Menggapai Masa Depan)

  • November 2007
    M T W T F S S
    « Oct   Jan »
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    2627282930  
  • Arsip

Kesadaran Multikultural Pesantren

Posted by nahdliyinbelanda on November 13, 2007

Oleh: Sunarwoto

Benarkah pesantren tidak atau kurang memiliki kesadaran multikultural? Pertanyaan ini dikemukakan terkait dengan hasil sebuah penelitian yang dilakukan oleh ICIP (International Center for Islam and Pluralism), BKSPPI (Badan Kerjasama Pondok Pesantren se-Indonesia), dan AusAID beberapa tahun lalu. Penelitian tersebut membeberkan hasil penelitiannya dalam seminar dan workshop “Persepsi Komunitas Pesantren di Jawa Barat terhadap Isu-isu Keagamaan dan Multikulturalisme” di Depok, Jawa Barat, Selasa (16/1, 2006). Hasilnya, di antaranya, menyatakan bahwa kalangan pesantren inkonsisten dalam menyikapi multikulturalisme. Di satu sisi, mereka bersikap moderat dan toleran dalam masalah sosial, politik dan ekonomi. Namun, di sisi lain, mereka bersikap intoleran dalam masalah akidah. Seperti diungkapkan oleh salah seorang perwakilan pesantren Persis, Tarogong, toleransi dalam masalah agama tidak dibenarkan. (Republika, “Dialog Jumat”, 20/1). Di sini, kita bisa mencatat bahwa sensitivitas persoalan multikulturalisme bagi dunia pesantren terletak pada persoalan teologis, terutama menyangkut pluralisme, liberalisme dan sekularisme dalam soal keagamaan. Meski demikian, kesadaran multikultural sesungguhnya tidak sepenuhnya absen dari dunia pesantren, baik secara sosio-kultural ataupun bahkan dalam soal teologis sekalipun. Tulisan ini tidak hendak menjawab pertanyaan benar-tidaknya pesantren memiliki kesadaran multikultural di atas. Alih-alih, penulis mengajak untuk memahami lebih jauh potensi kesadaran multikultural yang terkandung dalam dunia pesantren.

Inti multikulturalisme, seperti pernah dikatakan Mun’im Sirry (Kompas, 1/5/2003), adalah kesediaan menerima kelompok lain secara sama sebagai kesatuan, tanpa memedulikan perbedaan budaya, etnik, jender, bahasa, ataupun agama. Secara sosiologis, pesantren merupakan sebuah subkultur yang multikultural karena para santrinya datang dari berbagai kultur yang beragam budaya dan suku. Keragaman ini kemudian saling mengisi satu sama lain sehingga mewarnai dan mencirikhasi kehidupan suatu pesantren. Ambil contoh perbandingan Pesantren Lirboyo dan Pesantren Ploso Kediri, Jawa Timur. Di Lirboyo, para santri biasanya ditempatkan pada kompleks daerah asal masing-masing. Interaksi sosial para santri dari berbagai daerah itu terbentuk dalam ruang-ruang kelas, diskusi (musyawarah), dan ruang publik lain dalam pesantren tersebut. Hal ini agak berbeda dengan Ploso. Di pesantren ini, para santri tidak mendiami kompleks menurut daerah asal mereka, tetapi campur. Mengingat hal ini, interaksi sosial para santri Ploso tentulah lebih luas dari para santri Lirboyo. Memang tidak jarang terjadi gesekan dan konflik bersentimen antardaerah. Kendati demikian, mereka dapat menjaga harmonisme sesuai dengan tradisi masing-masing. Mereka bisa saling mengenal dan belajar satu sama lain dalam banyak hal seperti soal gaya hidup, dialek, dan kebiasaan mereka masing-masing.

Fakta sosiologis keragaman ini sekaligus menjadi modal penting bagi kesadaran multikural dunia pesantren. Bagaimana dengan persoalan teologis yang sensitif itu? Di sini perlu ditegaskan bahwa sepanjang teologi dipahami berkaitan dengan keyakinan, maka keteguhan dan komitmen keyakinan tidaklah serta-merta menunjukkan intoleransi dan konservatisme. Intoleransi terjadi hanya pada sikap saling negasi antarkeyakinan. Untuk memahami sikap teologis dunia pesantren terhadap multikulturalisme secara spesifik memang agak sulit. Hal ini karena, sebagaimana umat Islam lainnya, kalangan pesantren juga berpegang kuat pada teks-teks keagamaan, terutama al-Quran dan hadis. Namun demikian, kita bisa melihat landasan tekstual lain yang digunakan dunia pesantren, yakni kitab kuning. Di antara kitab kuning dimaksud, misalnya, adalah Kifâyatul ‘Awwâm. Dalam karya Syekh Ibrahim al-Bajuri ini, terdapat satu konsepsi teologis yang amat penting ihwal makhluk (makhlûq). Dikatakan di dalamnya bahwa makhluk sesungguhnya adalah kullu mâ siwa Allâh (segala apa yang selain Allah). Jika dirunut, konsepsi makhluk ini sangat sekular. Artinya, terdapat kesadaran bahwa semua makhluk didudukkan dalam posisi setara tanpa memandang perbedaan suku, ras, budaya dan agama. Makhluk secara bagaimana pun adalah bukan Tuhan! Inilah yang kemudian menjadi salah satu landasan pokok akidah Asy’ariah yang dianut mayoritas pesantren, yaitu mukhâlafatu lil hawâditsi. Yakni bahwa Allah tidak sama dengan makhluk-Nya. Keragaman makhluk, dalam konteks ini, juga menunjukkan pembedaan secara radikal antara manusia dan Tuhan yang Mahaesa. Konsekuensinya lebih lanjut adalah bahwa apa pun pemahaman atas kebenaran Tuhan tidak pernah identik dengan Tuhan itu sendiri. Apakah ini juga sikap relativis terhadap kebenaran? Di sini kita bisa menegaskan bahwa potensi kesadaran multikultural dunia pesantren sangat besar. Sikap penolakan terhadap multikulturalisme sebagian kalangan pesantren justru menjadi bagian dari multikulturalisme itu sendiri, yakni bahwa mereka pun berhak menyatakan identitas mereka yang memang berbeda. Bukankah multikulturalisme dibangun di atas puing-puing perbedaan dan keragaman itu? Masalahnya lalu bukan terutama pada inkonsistensi sikap, apatah lagi konservatisme. Tetapi persoalannya justru terletak pada cara memahami keragaman identitas masing-masing budaya. Karena, toh berbicara tentang dunia pesantren itu sendiri pada akhirnya tidak bisa monolitik, hitam-putih.

Paparan fakta sosiologis dan teologis di atas pada akhirnya menggiring pada persoalan bagaimana dunia pesantren berdialog dengan budaya-budaya di luar dirinya. Dalam hal ini, akses informasi dan komunikasi budaya menjadi sangat vital bagi berlangsungnya dialog budaya pesantren. Penolakan sebagian kalangan pesantren atas multikulturalisme, pluralisme, dan liberalisme boleh jadi karena memang saluran dan akses komunikasi tidak berlangsung secara wajar. Apakah medium komunikasi dan informasi sudah memberikan ruang yang cukup bagi kalangan pesantren untuk menunjukkan identitasnya dan berdialog dengan identitas-identitas lainnya? Pun, apakah dunia pesantren itu sendiri sudah siap berdialog dengan budaya-budaya lain dengan medium komunikasi dan informasi tersebut? Apa pun jawabannya, pluralitas adalah keniscayaan budaya global yang mesti dijawab secara arif oleh bangsa ini.[]

Penulis, pernah nyantri di Pondok Pesantren Salafiyah Bandarkidul dan sekolah nduduk di Lirboyo, Kediri Jawa Timur.

About these ads

2 Responses to “Kesadaran Multikultural Pesantren”

  1. taufik79 said

    salam hangat

  2. Hamiim said

    Banyak orang Islam bicara soal pluralisme dan multikulturalisme termasuk gender hanya untuk menyenangkan ‘orang-orang Barat’ supaya ‘mereka’ bisa dapat proyek dari mereka. Orang yang benar-benar punya akidah, apa pun agamanya, tidak pernah ada yang mau ‘memultikuluralkannya’, kecuali beberapa orang Muslim yang bicara tanpa memahami apa yang dikatakannya bak burung kakatua. Akidah sebagai entitas sosial; hanya itu yang orang mau share seperti konsep yang dikembangkan Tony Blair dalam the Faith Foundation-nya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: